Rabu, 16 Oktober 2013

Yogyakarta : Kuliner : Peacock

Peacock Coffee di daerah Monjali ini merupakan salah satu tempat favorite saya di Yogya. Selain menawarkan berbagai macam minuman segar dan panas, tersedia makanan ringan seperti apple pie, schotel, pasta dan cake lainnya dengan harga terjangkau. Tempatnya nyaman untuk santai atau nongkrong bersama teman-teman. Tapi saya biasanya memilih untuk pergi sendiri di pagi hari menjelang siang, karena masih sepi pengunjung. Kalau lagi iseng merajut dan nyeket gambar bisa sambil online, karena wifi tersedia disini, tinggal minta passsword kekasirnya. Cobain deh, I like Green Tea and Pasta Tuna :)


Peacock berada di daerah Jl. Am Sangaji Yogyakarta


Dapurnya sederhana, menunya kamu bisa langsung liat di tembok


Hari ini saya mencoba memesan Banana Cake seharga Rp.9900 dan Carmelito Rp. 16.900


Suasana indoor Peacock Cofee yang menyatu dengan Hotel Mustokoweni


Ini Pasta Tuna yang saya suka


 Foto by Mulyana


Senin, 07 Oktober 2013

Yogyakarta : Kuliner : Kopi Klinik

Malam minggu lalu saya diajak oleh teman saya Mirna ke Kopi Klinik yang terdapat di daerah Gejayan Yogyakarta. Kebetulan hari itu suaminya Mas Jaya menjadi chef untuk memasak makanan dengan menggunakan olahan kopi sebagai bagian dari menu yang akan dihidangkan yaitu Bajawa Espresso Spicy Chili

"Kopi Klinik hanya buka 5 jam dalam sehari, mulai dari jam 5 sore sampai 10 malam, semua dikondisikan oleh pengunjung. Paling lama jam 11 atau 12 karena paginya saya bekerja. Hari minggu libur" ucap mas Pepeng menjawab pertanyaan saya sambil membuatkan kopi untuk para pelanggannya. 

 

Display kopinya sederhana, hanya dimasukan dalam toples, dikasih nama sesuai daerah penghasilnya, dan dipajang diatas meja berjejeran, sehingga penikmat kopi bisa memilih kopi kesukaannya.

 

Mas Pepeng sedang mempersiapkan kopinya. Kalau kamu melihat mukanya, inget aja artis Pepeng yang terkenal dengan acara kuisnya "jari jari....".
 

Mas Jaya sedang mempersiapkan makanannya

 

Jeruk dan Saledri merupakan salah satu kondimen/ bahan yang dipakai.


Ini adalah kopi pesanan saya :) . Bagi kamu penikmat coffee, Kopi Klinik bisa menjadi tempat alternatif yang oke untuk nongkrong sambil ngopi. Terima kasih Mas Pepeng untuk kopinya dan Mas Jaya untuk makanannya yang ma'nyos.

Foto by Mulyana

Yogyakarta : Taman Sari : Part 2

Kunjungan ke Taman Sari saya lanjutkan pada hari sabtu pagi. Karena weekend, banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini perorangan atau kelompok. Harga tiket masuk pada saat itu sebesar Rp. 4000. Belum termasuk Guide. Karena sehari sebelumnya saya sudah sedikit mencari keterangan tentang tempat ini di mbah Google. Saya memilih untuk berjalan sendiri karena niatnya hanya ingin mengambil foto Yono Mogus untuk keperluan postingan blog ini.

 

Awal masuk gerbang pemandian kamu akan menemukan dua buah bangunan ini, saya kira ini zaman dahulunya dipakai untuk para penjaga.


Menyatu dengan gerbang masuk pemandian depan, ada 2 sosok patung naga yang saling berhadapan. Karena saya bergerak di bidang seni, saya tertarik dengan alasan kenapa mereka memakai simbol naga ini sebagai hiasan.


Yono Mogus dan Patung Naga

 
Kalau diperhatikan, ornamen yang dipakai di gerbang atas ini terdiri dari suluran tumbuhan dansejenis unggas.

 
Ini adalah suasana pemandian depan. Terdiri dari 2 kolam yang cukup luas.


Patung Kepala Naga menjadi aksesoris tempat air mengalir


Ini adalah foto didalam ruangan pambatas antara pemandian utama yang terdiri dari 2 kolam  dan kolam belakang, perpaduan antara ornament khas Islam berupa suluran, garis yang membentuk seperti kubah dan ornamet khas Hindu seperti naga dan karater buta melekat di tempat ini.


Yono Mogus sedang berteduh


suasana kolam pemandian kedua, selain dihiasi pot-pot besar disekelilingnya, di tiap pojokan terdapat bekas kandang burung.


Kemegahan dan keindahan arsitektur bisa kita lihat disini


Setelah musibah bencana gempa yang terjadi di tahun 2006 silam, banyak bangunan di Taman Sari ini yang mengalami kerusakan, sehingga perbaikan yang dilakukan kadang sangat terlihat perbedaannya dibanding dengan bangunan aslinya.


Ini salah satu spot tempat favorit foto para pengunjung, konon dahulu ini adalah masjid. Keunikan dari bentukan pintu keluar masuk jalan dibuat pendek, sehingga kita harus menunduk untuk melewatinya. Kalau kamu berkesempatan ke Jogja, tidak salahnya untuk berkunjung ke tempat ini dan rasakan pengalaman jalan-jalan di bangunan bawah tanah.Enjoy Yogyakarta.

 Foto by Mulyana

Yogyakarta : Taman Sari : Part 1

Nafas Residensi sekarang bertempat di Jl. Ngadisuryan. Pada jaman dahulu jalan ini adalah bagian dari kebun Istana Keraton. Tidak jauh dari tempat tinggalku terdapat Taman Sari yang terkenal dengan Pemandian Sultan jaman dahulu, sekarang menjadi salah satu tempat Wisata Cagar Budaya yang banyak dikunjungi baik turis lokal maupun mancanegarag. Hari Jum'at sore tanggal 4 oktober kemarin saya sempatkan untuk mengunjunginya, sambil mencari ide menarik untuk bahan karya saya di program residensi selama 3 bulan ini.

Lokasi Taman Sari ini terletak diantara pemukiman penduduk, karena tiket masuk sore itu sudah tutup, maka sayapun mencoba berkeliling melewati jalan perumahan. Tanpa sengaja saya ternyata dapat melewati jalan tengah yang menjembatani pemandian satu dengan pemandian lainnya, kemudian menemukan sumur tua yang didalamnya terdapat banyak koin. Katanya disana teman-teman bisa melemparkan koin sambil membuat permohonan.


Foto diatas merupakan gerbang belakang pemandian pertama, yang menarik disini adalah bentukan bangunan yang cukup sederhana, akan tetapi saya masih penasaran dengan ornamen yang menghiasinya.


Yono sedang berjemur di sekitaran sumur tua


Suasana sekitar sumur tua.


Walaupun ga seperti ga ada yang jaga tapi tempatnya bersih

  

Harusnya ada buku yang menerangkan bangunan disini, saya belum menemukan, jadi maaf kalau infonya belum begitu jelas.


Foto by Mulyana

Senin, 30 September 2013

Yogyakarta : Kuliner : Gudeg

Senin siang menjelang sore setelah selesai mengerjakan tulisan untuk salah satu karya teman saya yang akan dipamerkan di Bandung akhir oktober nanti, saya berjalan-jalan di Malioboro , tempat salah satu tujuan wisata, belanja dan kuliner andalan Yogyakarta. Saya memang berniat mencari makan siang, setelah tengok sana-sini akhirnya saya melihat plang besar Gudeg Yu Djum, tepatnya di Jl. Degan. Gudeg merupakan makan khas Yogyakarta, didalamnya terdiri dari olahan nangka muda, krecek merah, kacang kedelai, semur tahu, dengan tambahan berbagai macam ayam yang disemur. 

Gudeg Yu Djum dipilih karena rekomendasi teman saya, selain harganya pas, rasanya selalu dijaga. Makanya tempat makan ini bertahan hingga sekarang. Saya sendiri makan gudek krecek hanya 5000 ditambah es teh manis 3000 dan kerupuk 1000 totalnya 9000. Cukup murah, dan perutpun terisi. Tapi di dalam menu tertulis, harga sewaktu waktu berubah sesuai bahan baku dipasar.

Gudeg ini bisa jadi bahan oleh-oleh khas Jogja, bertahan sampai 2 hari, karena banyak menggunakan olahan santan, klo bisa masukin kulkas aja, itu juga ga dijamin tahan lama. Kemasannya  pun dibuat menarik, bisa memilih pakai kendi atau besek. 

Untuk sentra makanan khas Gudeg sebenarnya ada di Jl. Wijilan, tidak jauh juga dari Malioboro, disini kita bisa memilih tempat makan gudeg mana yang kita inginkan. Coba dan rasakan, itu awal kamu akan menyukai makanan Jogja, dan tahu citra rasa penduduk sini.



Jl. Dagen 


Plang Gudeg Yu Djum terlihat dari Jl. Malioboro tepatnya di Jl. Degan No.2c

 

Etalase makanan 


Nah ini dia makanan pesanan saya


Ini merupakan kemasan kardus Gudeg Yu Djum


Gerbang masuk sentra makanan khas Gudeg di Jl. Wijilan


Foto by Mulyana

Jumat, 27 September 2013

I Make Mogus and His Name is Yono

Tiga hari kebelakang ini saya memang meniatkan untuk membuat Alterego bentukan Mogus untuk mengisi cerita yang saya tulis di blog Mogus and Friends. Badan dan kakinya sudah saya buat sewaktu di Bandung. Jadi disini saya tinggal membuat aksesoris sehingga si Mogus mempunyai karakter. Saya terinspirasi oleh Pak Raden, salah satu karakter fiksi dari serial Unyil yang cukup dikenal masyarakat dengan kumis tebalnya. Suaranya yang kental dengan logat Jawa bagi saya cukup untuk mewakili daerah Yogyakarta tempat residensi sekarang ini. Mogus ini pun saya beri nama Yono, diambil dari nama belakang saya jika dipisahkan Mul-Yana. Karena di daerah Jawa Tengah atau Timur nama seseorang banyak yang memakai huruf vokal O, maka Yana pun saya rubah menjadi Yono. Begitulah cerita asal mula Yono Mogus, Lahir pada hari Sabtu, 28 September 2013.

 

Awalnya mata Yono dibuat dua dan berkacamata


Kemudian saya coba buat tidak berkacamata, jadi terlihat galak seperti Pak Raden, hahaha.

 

Ini salah satu hasil foto jepretan Nala untuk mendoumentasikan kegiatan saya selama residensi.


Coba kasih saran, sudah mirip belum hasil karya 3D dan 2D nya?

 

Nah.. saya membuat gambar Yono Mogus ini dengan menggunakan Drawing Pen 01 dan 06


Jadinya Yono Mogus bermata satu dan berkumis ping


Yono siap beraksi, dan bercerita selama saya tinggal di Yogyakarta.See U Soon...

Foto by Mulyana

Selasa, 24 September 2013

Yogyakarta : Nafas Residensi

Selama kurang lebih 3 bulan, saya akan tinggal di Yogyakarta tepatnya di Nafas Residensi yang merupakan residensi kedua saya di dalam negeri. Untuk program residensi Cycle#2 2013 ini saya ditemani oleh 3 seniman terpilih lainnya. Satu dari Yogya yaitu Octo Cornelius, dan dua dari Malaysia.

Residensi merupakan hal yang menarik bagi saya, selain berpameran, kita dikondisikan untuk belajar terbuka dan berbagi, kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang seni yang saya tekuni. Walaupun Yogyakarta masih di wilayah Indonesia, suasana, budaya, kultur seni rupa yang dimilikinya berbeda dengan Bandung tempat dimana saya tinggal dan belajar akademik di bidang seni rupa. Kolaborasi dengan seniman dari negeri tetanggapun semoga bisa menjadi pengalaman menarik yang akan saya ceritakan di blog ini.

Pada kesempatan kali ini saya ditantang untuk bisa lebih maju dan membuat karya lebih baik dari sebelumnya, setidaknya pekerjaan rumah bagi saya untuk mendapat banyak hal yang harus saya pelajari, resapi dan pahami. Ilmu dan pengalaman positif yang didapat InsyaAlloh semoga bisa saya amalkan kemudian hari sewaktu kembali ke Bandung. Amiin.

 

 Nafas Residensi


 Halaman Depan Rumah


Ruang Tamu


Ruang Tamu dan Lemari Buku & Katalog Pameran


Ruang Kerja

 

Kamar Mandi Depan

 

Halaman Belakang


Ruang Studio

 

Dapur


Gudang Belakang


Suasana Jalan Depan Rumah

Foto by Mulyana