Jumat, 25 Oktober 2013

Studio Visit : thedeo MIXBLOOD

Kamis, 24 Oktober 2013 saya berkunjung ke studio thedeo MIXBLOOD di daerah Imogiri Yogyakarta. R. Bonar Senan D. Putro yang akrab disapa Otong dari Solo dan Fahla Fadhillah Lotan (Dilla) dari Bandung adalah founder dari artis grup independent ini. Aktif sejak tahun 2011, thedeo MIXBLOOD membuat project karya kolaborasi yang sangat menarik dengan basic teknik yang mereka sebut sebagai ekperimental custom toys. 

Kesan pertama melihat beberapa karya thedeo MIXBLOOD adalah detail, kontruksi, serta imajinasi bentuk yang lahir dari dua orang yang masing-masing berlatar belakang pendidikan dan kesukaan berbeda dapat menghasilkan karya yang kompleks dan menarik. Mas Otong adalah lulusan seni lukis ISI dan pernah duduk di bangku STM pembangunan sedangkan Dilla adalah penyuka fashion dan sekarang masih menjadi mahasiswi aktif di jurusan photography ISI. Kolaborasi dua seniman ini akhirnya memperkarya mereka dalam mengeksplorasi karya-karyanya. 

Bahan yang mereka pakai ternyata beberapa dari bahan mainan bekas yang tidak terpakai, atau sumbangan dari temen-teman dan orang-orang yang tertarik dengan project thedeo MIXBLOOD lakukan. Mainan tersebut dimutilasi menjadi beberapa bagian dan dipasang kembali menjadi spesies baru dengan contoh foto karya yang ada dibawah tulisan ini. Kemudian mereka mix dengan kain flanel, benang, mote, dan berbagai macam aksesoris lainnya dengan teknik menjahit, menempel, dan menyambung sebagai andalannya.

Tema atau konsep yang diangkat lebih ke personal, mengikuti kondisi mereka. Kamu akan merasakan bagaimana karya mereka hidup karena karakter yang dibangun dengan sepenuh hati. "Mencari Masalah" itu yang mereka bilang kepadaku agar tidak stuck dalam berkarya dan jenuh dengan media serta bahan yang kita kerjakan.




Suasana Kosan yang menjadi studio thedeo MIXBLOOD dan Mas Otong berkarya


Mas Otong yang sedang menjelaskan tentang salah satu karya thedeo MIXBLOOD yang belum kelar. Beberapa lukisan yang menempel di tembok adalah contoh karyanya.

 

Beberapa karya thedeo MIXBLOOD yang super duper warnanya.


Salah satu karya yang masih dalam proses, karena karya thedeo MIXBLOOD beberapa diantaranya ada yang menggunakan media mekanik sehingga dapat bergerak.


Di Studio ini banyak sekali tumpukan mainan sebagai bahan dasar dari karya.


Detail karya thedeo MIXBLOOD


"Did You Remember Me Neil Amstrong?"


Yono Mogus dan beberapa karya thedeo MIXBLOOD


Detail karya thedeo MIXBLOOD tampak belakang


Dilla, Yono Mogus dan Mas Otong

Foto by Mulyana
Artistik by thedeo MIXBLOOD

Blognya thedeo MIXBLOOD bisa dicek disini

Rabu, 16 Oktober 2013

Plush Doll : Tulang Ikan

Setahun lebih yang lalu, ketika saya residensi di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, saya mendapat pesanan dari Mba Wina yang ingin dibuatkan boneka oleh saya. Akhirnya hari itu tiba, dan saya pun dapat menyelesaikan, haha... Boneka ini saya buat dengan media kain bulu, kain planel dan dakron. Ternyata memakai kain felt kurang bagus untuk ukuran besar, apalagi kalau sudah dicuci, karena bisa berbulu. Saran saya kalau teman membuat boneka besar pilih kain lain, untuk aksesoris seperti mata dan mulut masih bisa kita gunakan kain planel ini, karena menarik dan banyak pilihan warnanya. Nah untuk terlihat lebih terang dan tekstur kain yang keras, teman-teman bisa bakar menggunakan api kecil. Itu yang diajarkan teman saya thedeo MIXBLOOD dan berhasil. Selamat mencoba. :)


 Boneka Tulang Ikan tampak keseluruhan.


Detail Boneka, untuk mata dan mulut saya menggunakan teknik tusuk feston. Pola tulang ikan saya gunakan teknik jelujur untuk menyatukannya dengan kain bulu.

Foto by Mulyana

Yogyakarta : Pantai Sundak

Pantai adalah bagian alam ciptaan Tuhan yang saya suka. Tiupan angin, suara ombak, bau pasir membuat otak ini merasa tenang. Kadang menjadi tempat cuci mata, hehe :P. Sundak merupakan salah satu pantai di daerah Gunung Kidul. Ini adalah kedua kalinya saya berkunjung ke tempat ini. Saya ditemani teman, sahabat, sekaligus ibu tiri saya Palupi dan teman di Tobucil Mba Theo si Perempuan Sore. Kebersihannya masih terjaga, mungkin itu yang membuat saya merasa nyaman dan betah berlama-lama. Semoga pantai ini selalu indah dan pada suatu hari nanti saya tidak perlu merindukan keindahan dan kebersihannya disebabkan tangan manusia yang tidak sadar lingkungan. I Wish...


Pasirnya putih dan bersih

 

Sore itu di Pantai Sundak...


Saya menikmati keindahan peristiwa alam yang jarang terlihat di kota saya tinggal Bandung, terbenamnya matahari diantara lautan dan langit yang menjadi batasnya. Terima kasih Tuhan..

Foto by Mulyana

Yogyakarta : Kuliner : Peacock

Peacock Coffee di daerah Monjali ini merupakan salah satu tempat favorite saya di Yogya. Selain menawarkan berbagai macam minuman segar dan panas, tersedia makanan ringan seperti apple pie, schotel, pasta dan cake lainnya dengan harga terjangkau. Tempatnya nyaman untuk santai atau nongkrong bersama teman-teman. Tapi saya biasanya memilih untuk pergi sendiri di pagi hari menjelang siang, karena masih sepi pengunjung. Kalau lagi iseng merajut dan nyeket gambar bisa sambil online, karena wifi tersedia disini, tinggal minta passsword kekasirnya. Cobain deh, I like Green Tea and Pasta Tuna :)


Peacock berada di daerah Jl. Am Sangaji Yogyakarta


Dapurnya sederhana, menunya kamu bisa langsung liat di tembok


Hari ini saya mencoba memesan Banana Cake seharga Rp.9900 dan Carmelito Rp. 16.900


Suasana indoor Peacock Cofee yang menyatu dengan Hotel Mustokoweni


Ini Pasta Tuna yang saya suka


 Foto by Mulyana


Senin, 07 Oktober 2013

Yogyakarta : Kuliner : Kopi Klinik

Malam minggu lalu saya diajak oleh teman saya Mirna ke Kopi Klinik yang terdapat di daerah Gejayan Yogyakarta. Kebetulan hari itu suaminya Mas Jaya menjadi chef untuk memasak makanan dengan menggunakan olahan kopi sebagai bagian dari menu yang akan dihidangkan yaitu Bajawa Espresso Spicy Chili

"Kopi Klinik hanya buka 5 jam dalam sehari, mulai dari jam 5 sore sampai 10 malam, semua dikondisikan oleh pengunjung. Paling lama jam 11 atau 12 karena paginya saya bekerja. Hari minggu libur" ucap mas Pepeng menjawab pertanyaan saya sambil membuatkan kopi untuk para pelanggannya. 

 

Display kopinya sederhana, hanya dimasukan dalam toples, dikasih nama sesuai daerah penghasilnya, dan dipajang diatas meja berjejeran, sehingga penikmat kopi bisa memilih kopi kesukaannya.

 

Mas Pepeng sedang mempersiapkan kopinya. Kalau kamu melihat mukanya, inget aja artis Pepeng yang terkenal dengan acara kuisnya "jari jari....".
 

Mas Jaya sedang mempersiapkan makanannya

 

Jeruk dan Saledri merupakan salah satu kondimen/ bahan yang dipakai.


Ini adalah kopi pesanan saya :) . Bagi kamu penikmat coffee, Kopi Klinik bisa menjadi tempat alternatif yang oke untuk nongkrong sambil ngopi. Terima kasih Mas Pepeng untuk kopinya dan Mas Jaya untuk makanannya yang ma'nyos.

Foto by Mulyana

Yogyakarta : Taman Sari : Part 2

Kunjungan ke Taman Sari saya lanjutkan pada hari sabtu pagi. Karena weekend, banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini perorangan atau kelompok. Harga tiket masuk pada saat itu sebesar Rp. 4000. Belum termasuk Guide. Karena sehari sebelumnya saya sudah sedikit mencari keterangan tentang tempat ini di mbah Google. Saya memilih untuk berjalan sendiri karena niatnya hanya ingin mengambil foto Yono Mogus untuk keperluan postingan blog ini.

 

Awal masuk gerbang pemandian kamu akan menemukan dua buah bangunan ini, saya kira ini zaman dahulunya dipakai untuk para penjaga.


Menyatu dengan gerbang masuk pemandian depan, ada 2 sosok patung naga yang saling berhadapan. Karena saya bergerak di bidang seni, saya tertarik dengan alasan kenapa mereka memakai simbol naga ini sebagai hiasan.


Yono Mogus dan Patung Naga

 
Kalau diperhatikan, ornamen yang dipakai di gerbang atas ini terdiri dari suluran tumbuhan dansejenis unggas.

 
Ini adalah suasana pemandian depan. Terdiri dari 2 kolam yang cukup luas.


Patung Kepala Naga menjadi aksesoris tempat air mengalir


Ini adalah foto didalam ruangan pambatas antara pemandian utama yang terdiri dari 2 kolam  dan kolam belakang, perpaduan antara ornament khas Islam berupa suluran, garis yang membentuk seperti kubah dan ornamet khas Hindu seperti naga dan karater buta melekat di tempat ini.


Yono Mogus sedang berteduh


suasana kolam pemandian kedua, selain dihiasi pot-pot besar disekelilingnya, di tiap pojokan terdapat bekas kandang burung.


Kemegahan dan keindahan arsitektur bisa kita lihat disini


Setelah musibah bencana gempa yang terjadi di tahun 2006 silam, banyak bangunan di Taman Sari ini yang mengalami kerusakan, sehingga perbaikan yang dilakukan kadang sangat terlihat perbedaannya dibanding dengan bangunan aslinya.


Ini salah satu spot tempat favorit foto para pengunjung, konon dahulu ini adalah masjid. Keunikan dari bentukan pintu keluar masuk jalan dibuat pendek, sehingga kita harus menunduk untuk melewatinya. Kalau kamu berkesempatan ke Jogja, tidak salahnya untuk berkunjung ke tempat ini dan rasakan pengalaman jalan-jalan di bangunan bawah tanah.Enjoy Yogyakarta.

 Foto by Mulyana

Yogyakarta : Taman Sari : Part 1

Nafas Residensi sekarang bertempat di Jl. Ngadisuryan. Pada jaman dahulu jalan ini adalah bagian dari kebun Istana Keraton. Tidak jauh dari tempat tinggalku terdapat Taman Sari yang terkenal dengan Pemandian Sultan jaman dahulu, sekarang menjadi salah satu tempat Wisata Cagar Budaya yang banyak dikunjungi baik turis lokal maupun mancanegarag. Hari Jum'at sore tanggal 4 oktober kemarin saya sempatkan untuk mengunjunginya, sambil mencari ide menarik untuk bahan karya saya di program residensi selama 3 bulan ini.

Lokasi Taman Sari ini terletak diantara pemukiman penduduk, karena tiket masuk sore itu sudah tutup, maka sayapun mencoba berkeliling melewati jalan perumahan. Tanpa sengaja saya ternyata dapat melewati jalan tengah yang menjembatani pemandian satu dengan pemandian lainnya, kemudian menemukan sumur tua yang didalamnya terdapat banyak koin. Katanya disana teman-teman bisa melemparkan koin sambil membuat permohonan.


Foto diatas merupakan gerbang belakang pemandian pertama, yang menarik disini adalah bentukan bangunan yang cukup sederhana, akan tetapi saya masih penasaran dengan ornamen yang menghiasinya.


Yono sedang berjemur di sekitaran sumur tua


Suasana sekitar sumur tua.


Walaupun ga seperti ga ada yang jaga tapi tempatnya bersih

  

Harusnya ada buku yang menerangkan bangunan disini, saya belum menemukan, jadi maaf kalau infonya belum begitu jelas.


Foto by Mulyana